Tentang Kami

Logo & Sejarah

Logo & Makna
  • Bintang bersudut tiga: bintang adalah benda alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang tinggi letaknya dan memancarkan cahaya abadi. Jumlah tiga merupakan pantulan Trapsila Adhyaksa sebagai landasan kejiwaan warga Adhyaksa yang harus dihayati dan diamalkan.
  • Pedang: melambangkan kebenaran, senjata untuk membasmi kemungkaran/kebathilan dan kejahatan.
  • Timbangan: lambang keadilan — keadilan yang diperoleh melalui keseimbangan antara suratan dan siratan rasa.
  • Padi dan kapas: melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran yang menjadi dambaan masyarakat.
  • Seloka “Satya Adhi Wicaksana”: Trapsila Adhyaksa yang menjadi landasan jiwa dan raihan cita-cita setiap warga Adhyaksa.
Makna tata warna: warna kuning berarti luhur — keluhuran makna yang dikandung dalam gambar/lukisan, keluhuran yang dijadikan cita-cita. Warna hijau berarti tekun — ketekunan yang menjadi landasan pengejaran/pengraihan cita-cita. (Sumber: Kepja No. 074/1978 dan Perja No. 018/A/J.A/08/2008). Sejarah Kejaksaan Istilah kejaksaan telah dikenal sejak lama di Indonesia. Pada masa kerajaan Hindu-Jawa di Jawa Timur, terutama era Kerajaan Majapahit, istilah dhyaksa, adhyaksa, dan dharmadhyaksa merujuk pada posisi dan jabatan tertentu dalam pemerintahan kerajaan. Dhyaksa adalah hakim yang bertugas menangani masalah peradilan dalam sidang pengadilan, sedangkan adhyaksa adalah hakim tertinggi yang memimpin dan mengawasi para dhyaksa. Secara yuridis formal, Kejaksaan Republik Indonesia telah ada sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dua hari setelahnya, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 19 Agustus 1945, ditetapkan bahwa kejaksaan berada dalam lingkungan Departemen Kehakiman. Kejaksaan kemudian menjadi departemen yang terpisah (mandiri) melalui rapat kabinet 22 Juli 1960 yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 204/1960 — tanggal 22 Juli inilah yang diperingati setiap tahun sebagai Hari Bhakti Adhyaksa (HBA). Sejak awal eksistensinya hingga kini, Kejaksaan Republik Indonesia telah mengalami puluhan periode kepemimpinan Jaksa Agung dengan berbagai penyesuaian organisasi dan tata kerja sesuai kebutuhan negara dan masyarakat.